KanalBekasi.com – Maraknya pungutan biaya ekstrakurikuler di sekolah, mulai dari kegiatan studi tour sampai kegiatan ujian praktik siswa. Akibatnya, masyarakat mempertanyakan program pendidikan gratis tingkat SD dan SMP yang kerap di gaungkan oleh pemerintah.
Belum lama ini, SMPN 7 Bekasi menggelar kegiatan ujian praktik seni budaya dan tata boga bagi peserta didik kelas IX.
Untuk mendapat nilai ujian praktik yang dibarengi acara pentas seni, pihak sekolah menetapan biaya sebesar Rp 225 ribu kepada setiap siswa kelas IX.
“Kegiatan (ujian praktik,red) bayar Rp 225 ribu,” ungkap orangtua siswa kelas IX.
Baca Juga: Mendikbud Perjelas Kategori Pungli di Sekolah
Pungutan lainnya yakni kegiatan studi tour ke Jogjakarta yang telah dilaksanakan beberapa waktu lalu, dengan biaya hingga jutaan rupiah.
Seharunya, pihak sekolah dapat memanfaatkan dana Bantuan Operasiona Sekolah (BOS), untuk membiayai kegiatan operasional sekolah misalnya biaya buku sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, pengembangan perpustakaan, uang formulir pendaftaran ulang, biaya praktikum maupun renovasi gedung.
“Kalau butuh anggaran dari masyarakat seharusnya bukan untuk kegiatan yang telah menjadi tanggung jawab pemerintah. Kalau kondisi di sekolah negeri seperti ini , maka program pendidikan gratis itu bagaimana?,” sesal warga Kayurngin Jaya.
Baca Juga: Berantas Pungli, Pemerintah Perkuat Regulasi dan Pencegahan
Terpisah, Kepala SMPN 7 Bekasi, Markum ketika dihubungi membenarkan adanya pungutan biaya kegiatan ujian praktik seni budaya dan prakarya yang digelar pada tanggal 25 Maret 2019 belum lama ini.
Meski begitu, Markum mengaku tak mengetahui adanya pungutan biaya kegiatan ujian praktik. Seraya melempar tanggung jawabnya selaku manajer sekolah, Markum mengatakan bahwa ide tersebut berawal dari salah satu tenaga pengajarnya.
Dia kembali menegaskan bahwa pungutan biaya kegiatan ujian praktik seni budaya dan prakarya yang melibatkan partisipasi masyarakat, diluar sepengetahuan dirinya.
“Saya sempat marah kepada guru saya ketika mengetahui ada pungutan untuk kegiatan itu,” katanya melalui sambungan selular.
Menurut Markum, dirinya tak mungkin membatalkan kegiatan yang telah dirancang meski tanpa sepengetahuannya. Sebab, jika kegiatan ujian praktik itu dibatalkan, maka bisa menjadi kekecewaan terhadap ratusan muridnya yang dinilai antusias untuk mengikuti kegiatan tersebut.
“Kalau nanti dibatalkan takutnya mereka kecewa. Akhirnya, terpaksa kegiatan itu dilakukan,” ujarnya.(boy)