Oleh: K.H. Imam Jazuli, Lc. MA
KanalBekasi.com - KALAU Anda mencari tempat yang paling "keras" dalam mencetak pengasuh pesantren, jawabannya satu: Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.
Jangan bayangkan gedung tinggi pencakar langit. Bayangkan ribuan santri, bersarung, berdesakan mengaji kitab kuning, tidur berhimpitan, tapi dari sanalah dari kesederhanaan yang ekstrem itu lahir raksasa-raksasa keilmuan yang mengasuh ribuan pesantren di seluruh pelosok Indonesia.
Lirboyo bukan sekadar pesantren biasa, ini adalah "pabrik" pencetak ulama, terutama ulama pengasuh pesantren.
Bagaimana Lirboyo Bekerja?
Mbah Manab (KH Abdul Karim), sang pendiri, menanamkan fondasi kuat: istikomah dan takzim (hormat) pada guru.
Baca Juga: Penerimaan Siswa Baru SMP Kota Bekasi 2026, Jalur Domisili Hingga Tahfidz Alquran
Santri Lirboyo tidak diajarkan untuk sekadar pintar, tapi alim. Pintar bisa dicari pada AI atau Google, namun alim? Hanya bisa didapat dari barokah guru.
Kurikulumnya?
Alfiah, Jauhar Maknun, Juman, Fathul Qarib, Fathul Mu'in, Mahalli, Jamul jawami, Ihya Ulumuddin dst.
Namun, di tangan KH. Mahrus Aly dan KH. Idris Marzuki, serta pengasuh setelahnya, santri dididik mandiri.
Tidak manja. Lirboyo mendidik santrinya untuk berani terjun ke masyarakat, memimpin, dan mendirikan pesantren. Itulah mengapa alumni Lirboyo identik dengan "pengasuh pesantren".
Baca Juga: Pasca Insiden Bekasi Timur, KAI Terapkan Pembatasan Kecepatan Kereta
Jejak Alumni Lirboyo