Menurut data dari organisasi Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal), ada 5.002 pendiri dan pengasuh pondok pesantren yang merupakan alumni Lirboyo, di antaranya (sekadar menyebut contoh):
- Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang: Pengasuh KH. Maimoen Zubair.
- Pondok Pesantren Raudlatul Thalibin Leteh, Rembang: Pengasuh KH Ahmad Musthafa Bisri.
- Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang: Pengasuh KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf).
- Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Mojo: Penerusnya seperti KH Huda Djazuli Usman pernah nyantri di Lirboyo.
- Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan: Pengasuh KH Abdul Ghofur.
- Pondok Pesantren Al-Falah, Banjarbaru: Pengasuh KH Moh. Ramli dan KH Nur Halimi.
- Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah, Sukorejo: Pengasuh KH R Achmad Azaim.
- Pondok Pesantren Atsaqofah Jakarta: Pengasuh KH Muhammad Said Aqil Siraj.
- Pondok Pesantren Kempek Cirebon: Pengasuh KH Mustafa Aqil Siraj.
- Pondok Pesantren Al-Falah, Demangan, Bangkalan: Pengasuh KH Ahmad Fatah.
- Pondok Pesantren Assalafi Al-Fithrah: Pengasuh KH Achmad Asrori Al-Ishaqi.
- Pondok Pesantren Miftahul Huda, Pesawahan, Semarang: Pengasuh KH Ahmad Said.
- Pondok Pesantren Sirojul Huda, Bogor: Pengasuh KH Abdul Wahid.
- Pondok Pesantren Darussalam, Pasuruan: Pengasuh KH Abdul Hamid dan ribuan pesantren lainnya.
Pesantren-pesantren di atas dikenal mengikuti kurikulum salaf (kitab kuning) yang sehaluan dengan metode keilmuan yang diajarkan di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.
Baca Juga: Dukung Energi Bersih, Pertamina Ajak Warga Jabodetabek Uji Emisi Gratis di 14 SPBU
Ribuan lagi kiai-kiai sepuh di Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga luar Jawa yang merupakan "alumni emas" Lirboyo.
Mereka menjadi pengasuh, membimbing ribuan santri, dan menjaga stabilitas moral masyarakat di tingkat akar rumput.
Mengapa Lirboyo Belum Tergantikan?
Ada sebagian berpendapat "Lirboyo itu manajemennya unik. Manajemen pasrah", tapi disiplin.
Tidak ada AC, tapi santrinya ngaji tidak ngantuk. Sementara yang lain, mungkin akan menekankan: "Ini soal manhaj. Lirboyo merawat tradisi tafaquh fiddin (dalam ilmu agama) di tengah arus modernisasi."
Lirboyo mencetak "bapak pesantren", bukan sekadar "pengajar" pesantren. Maaf, Lirboyo mungkin tidak pernah bercita-cita mencetak pegawai negeri. Sebab fokusnya satu: mencetak ulama.
Maka jangan kaget, kurikulumnya sangat ortodoks, sangat kiai, dan sangat kitab kuning. Di sana, santri digembleng bukan hanya hafal teks, tapi menghirup tradisi ketawaduan para pengasuhnya.
Lirboyo adalah simbol tashfiyah (pemurnian) dan tarbiyah (pendidikan) jiwa. Santri Lirboyo itu punya kekhasan: militansinya tinggi, penguasaan fikihnya tajam, dan pengabdiannya mutlak.
Itulah mengapa, ketika mereka pulang ke kampung halaman, pilihannya cuma dua: meneruskan pesantren yang sudah ada atau babat alas mendirikan pesantren baru.
Di Lirboyo, ilmu itu bukan sekadar pengetahuan, tapi amaliyah. Santri tidak belajar tentang dunia, tapi menguasai dunia dengan ilmu akhirat.
Itulah Lirboyo, pabrik ulama yang tak pernah berhenti mengirim cahaya ke seluruh jagad Nusantara dan mengubahnya.