Boon Pring sebelumnya telah diperkenalkan sebagai "Bamboo Living Museum" dalam ajang ICCF Nusantaraya, dan kini dikembangkan lebih jauh sebagai model percontohan pengelolaan kawasan budaya berbasis masyarakat.
Direktur Aktivasi Kebudayaan & Pusaka ICCN, Muhammad Anwar, menjelaskan bahwa Boon Pring memiliki perpaduan kekuatan ekologis dan budaya yang sangat relevan dengan visi besar ICF.
“Boon Pring memperlihatkan bagaimana budaya, konservasi lingkungan, dan ekonomi lokal dapat tumbuh dalam satu ekosistem kawasan yang saling terhubung. Tradisi seperti Metri Bambu menjadi contoh penting bahwa budaya lokal dapat menjadi fondasi pembangunan kawasan yang berkelanjutan,” ungkap Anwar.
Baca Juga: Presiden Prabowo Sampaikan Taklimat kepada Seribu Perwira Siswa TNI dan Polri
Buka Peluang Kolaborasi Nasional
Melalui peluncuran ini, ICF membuka kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh kota dan kabupaten di Indonesia untuk terhubung dalam jejaring kolaborasi nasional ICCN.
Mekanisme keterlibatan daerah akan dimulai dari tahap pemetaan potensi daerah, pengajuan program kolaboratif, proses kurasi dan sinkronisasi, hingga implementasi bersama di lapangan.
Melalui pendekatan berbasis jejaring dan partisipatif lintas sektor ini, ICCN berharap Indonesia Culture Festival dapat menjadi fondasi kokoh bagi pemajuan kebudayaan, kepariwisataan, dan ekonomi kreatif Indonesia yang lebih inklusif, partisipatif, serta berdaya saing global.(*)
Artikel Terkait
Pelaku Ekraf di Bekasi Ikut Bimtek Pengolahan Bahan Pangan Lokal
Akses Mendapatkan Kredit Bagi UMKM Akan Dipermudah
HIPPI Jakarta Siap Jadi Lokomotif Ekonomi Nasional
Perkuat Ekosistem SDM Unggul, BNSP Beri Lampu Hijau Kesiapan Operasional CLSP Takarsa Jakarta
Akselerasi Transformasi TLKM 30 Bawa Telkom Raup Pendapatan Rp146,7 Triliun