Jumat, 5 Juni 2026

Sistem SPMB Maung Jabar SMAN 1 Kota Bekasi, Disoal Ortu Calon Siswa Baru ‎ ‎

Photo Author
Robby Yahya, KanalBekasi.com
- Kamis, 4 Juni 2026 | 22:32 WIB
Sistem SPMB Jabar di SMAN 1 Kota Bekasi, dikeluhkan ortu calon siswa baru. (Foto: Robby Yahya)
Sistem SPMB Jabar di SMAN 1 Kota Bekasi, dikeluhkan ortu calon siswa baru. (Foto: Robby Yahya)

KanalBekasi.com – Proses Seleksi Penerimaan Siswa Baru (SPMB) Maung Jabar, dianggap masih bermasalah sehingga berpotensi akan merugikan calon siswa baru yang mendaftar melalui jalur prestasi non akademik.

‎Ade Kumala (43), mempersoalkan point anaknya yang mendaftar di SMAN 1 Kota Bekasi, melalui jalur prestasi non akademik kepemimpinan, mendadak berkurang 50 point.

‎Akibat perubahan point tersebut, anaknya yang berasal dari SMPN 2 Babelan, Kabupaten Bekasi, sebelumnya masih tercantum pada kuota pendaftaran dan tiba-tiba hilang dari urutan pendaftaran sementara.

Baca Juga: Pemprov Jabar Umumkan Jadwal Lengkap SPMB 2026 Beserta Kuota Jalur Seleksi

Namun menurut Ade, persoalan utamanya tidak hanya sekedar penurunan nilai saja. Akan tetapi, perubahan data tersebut tidak sesuai jadwal sesuai ketentuan.
‎Selain itu, kendala lainnya kata Ade Kumala, yakni minimnya informasi resmi kepada masyarakat khususnya calon siswa baru.

‎“Kalau memang sistemnya belum siap, kenapa dipaksakan diluncurkan? Harusnya diuji dan dipastikan matang terlebih dahulu. Jangan sampai anak-anak yang menjadi korban akibat ketidaksiapan sistem,” tegas Ade Kumala saat ditemui di SMAN 1 Kota Bekasi, Kamis (4/6/2026).

Menurutnya, berdasarkan jadwal resmi, masa verifikasi dan validasi seharusnya telah berakhir pada 2 Juni 2026 pukul 23.59 WIB. Namun ia mengaku masih menemukan adanya perubahan dan proses verifikasi yang berlangsung pada 3 Juni, padahal tahapan selanjutnya sudah memasuki masa uji kompetensi dan sanggah.

‎Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar di kalangan orang tua murid. Ade menilai ketidakjelasan mekanisme verifikasi membuat kepercayaan masyarakat terhadap proses seleksi menjadi terganggu.

‎“Kalau timeline bisa berubah dan verifikasi masih berjalan setelah batas waktu, lalu untuk apa ada jadwal yang sudah ditetapkan? Ini yang membuat kami mempertanyakan profesionalisme sistem yang digunakan,” ujar Ade Kumala yang juga berprofesi sebagai guru ini.

Baca Juga: SPMB 2026 Jawa Barat Fokus pada Pemetaan Minat dan Distribusi Siswa‎I

Ia juga mengingatkan bahwa persoalan SPMB bukan hanya soal angka dan peringkat, tetapi menyangkut kondisi psikologis siswa yang telah berjuang mempersiapkan diri selama bertahun-tahun.

‎“Anak-anak diajarkan tentang kejujuran, kerja keras, dan kompetisi yang sehat. Tapi ketika mereka melihat hasil yang berubah-ubah tanpa penjelasan yang jelas, tentu akan memengaruhi kepercayaan mereka terhadap sistem,” katanya.

‎Ade menegaskan dirinya tidak mempermasalahkan apabila anaknya tersingkir oleh peserta lain yang memiliki nilai lebih tinggi. Namun yang ia menyesalkan adanya perubahan data yang terjadi secara mendadak dengan alasan pemeliharaan sistem tanpa penjelasan rinci kepada publik.

‎“Kami hanya meminta transparansi. Jangan sampai sistem yang belum siap justru mengorbankan masa depan anak-anak yang sudah berjuang dengan prestasi dan kerja keras mereka,” pungkasnya.

‎Hingga kini, ia bersama sejumlah orang tua murid masih menunggu penjelasan resmi dari pihak sekolah maupun Kantor Cabang Dinas Pendidikan Jawa Barat terkait perubahan nilai dan peringkat yang terjadi menjelang pengumuman hasil SPMB.

Editor: Boyke Hutapea

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X