KanalBekasi.com - Penyakit jantung dan masalah kardiovaskular lainnya masih menjadi pembunuh nomor satu di dunia.
RS EMC Cikarang milik grup EMC Healthcare, telah berhasil dalam melakukan bedah jantung terbuka. Untuk pertama kalinya, operasi bypass jantung koroner dilakukan di rumah sakit yang berada di Kabupaten Purwakarta, Karawang dan Bekasi (Purwabeka), Provinsi Jawa Barat. RS EMC Cikarang juga telah Berhasil melakukan Operasi Bypass Jantung Koroner (CABG) di Kab. Purwabeka pada 12 pasien
Tim medis RS EMC Cikarang melakukan operasi bypass jantung koroner atau dalam bahasa medis disebut operasi Coronary Artery Bypass Graft (CABG) pada pasien – pasien pria dengan tingkat keberhasilan 100%.
Tim dokter dari Heart and Vascular Center RS EMC Cikarang dr. Marolop Pardede, Sp.BTKV, Subsp.VE (K),MH telah melakukan prosedur operasi CABG. Operasi bedah jantung terbuka tersebut dilakukan di ruangan yang sudah dilengkapi alat canggih heart and lung machine.
“Prosedur CABG adalah pembuatan jalur baru atau bypass di sekitar coronary artery yang tersumbat akibat tumpukan lemak,Jalur baru yang sudah tersambung ini akan membuat aliran darah menuju organ jantung menjadi lancar. Kondisi ini akan membuat sel jantung cukup mendapatkan nutrisi dan oksigen,” ungkap dr. Marolop Pardede, Sp.BTKV, Subsp.VE (K),MH kepada awak media saat menggelat Media Gathering di Attica Restoran,Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa ( 19/09).
Lebih lanjut kata dr. Marolop Pardede, CABG atau yang biasa dikenal dengan operasi bypass jantung merupakan salah satu prosedur operasi yang diperuntukkan untuk pengidap penyakit jantung koroner. Tujuan dari dilaksanakannya prosedur ini adalah untuk membuat sebuah saluran baru melewati pembuluh darah yang tersumbat akibat adanya penyempitan arteri yang mengalami penyumbatan akibat adanya penumpukan plak atau lemak pada arteri.
“Adapun penumpukan plak atau lemak tersebut sendiri dapat menyebabkan pecahnya arteri serta membentuk gumpalan darah yang dapat berujung pada kurangnya oksigen pada jantung dan menyebabkan jantung berhenti berfungsi sehingga memicu serangan jantung,” jelasnya.
Ditempat yang sama, Spesialis Jantung Dan Pembuluh Darah RS EMC Cikarang, dr.Kabul Priyantoro,Sp.JP(K),FIHA menambahkan,secara umum operasi bypass jantung tidak menjadi pilihan pertama dalam mengatasi penyakit jantung koroner karena meskipun dapat menurunkan risiko serangan jantung, meredakan gejala nyeri dada, dan menambah usia harapan hidup hingga 10 tahun, operasi ini memiliki risiko yang cukup tinggi.
“operasi bypass jantung berlangsung selama 3-6 jam, tergantung banyaknya pembuluh darah yang dicangkokkan untuk menggantikan fungsi pembuluh darah yang menyempit. Pembuatan jalur alternatif tersebut dapat dilakukan operasi menggunakan mesin pintas jantung paru, ada juga teknik tanpa menggunakan mesin pintas jantung paru, jantung di operasi dalam keadaan berdenyut,” jelasnya
Pada teknik ini terdapat beberapa keuntungan dibandingkan teknik dengan menggunakan mesin pintas jantung paru, kemudian pembuluh darah dari kaki (vena saphena), dada (arteri mamaria interna), atau lengan (arteri radialis). Pembuluh darah tersebut kemudian akan diangkat dan dokter membuat sayatan pada tulang dada agar bisa mencapai jantung. Lalu, jantung akan dihentikan dari memompa untuk beberapa saat agar dokter dapat memasangkan pembuluh darah cangkokkan.
“Selama prosedur berlangsung, fungsi mengalirkan darah ke seluruh tubuh yang dilakukan oleh jantung digantikan oleh mesin bypass jantung-paru agar organ-organ lain tetap menerima oksigen selama aliran darah ke jantung diperbaiki. Setelah aliran darah ke jantung sudah diperbaiki dan dicangkok, jantung pasien akan diberi kejutan listrik dengan kekuatan terkontrol agar kembali memompa. Terakhir, tulang dada yang disayat akan disatukan kembali dengan kawat dan kulit dijahit dengan benang,” jelasnya.
Hadir pada kegiatan media gathering tersebut diantaranya drg. Nailufar, MARS (Direktur Sales & Marketing EMC Healthcare Group), dr. Reni Fitriani, Direktur RS EMC Cikarang, Agus, Head of Sales & Marketing RS EMC Cikarang, dr. Kabul Priyantoro Sp. JP (K) FIHA dan dr. Marolop Pardede Sp. BTKV (K) MH. (sgr)