KanalBekasi.com — Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran Hantavirus dengan memperkuat deteksi dini di seluruh fasilitas layanan kesehatan serta menggencarkan edukasi kepada masyarakat menyusul maraknya pemberitaan kasus penyakit tersebut di sejumlah daerah.
Langkah antisipasi dilakukan melalui koordinasi dengan rumah sakit, puskesmas, dan klinik di wilayah Kabupaten Bekasi guna meningkatkan kesiapsiagaan tenaga kesehatan dalam mengenali gejala hingga melakukan penanganan awal terhadap dugaan kasus Hantavirus.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, Supriadinata mengatakan pihaknya telah menyiapkan fasilitas kesehatan beserta tenaga medis untuk melakukan screening awal terhadap penyakit tersebut.
Baca Juga: Kasus Virus Hanta di Indonesia Meningkat, Kemenkes Minta Masyarakat Waspada
“Kami sudah menyiapkan puskesmas, rumah sakit, klinik, serta tenaga kesehatan untuk melakukan screening awal terhadap penyakit Hantavirus,” ujarnya, Kamis (28/5)
Meski meningkatkan kewaspadaan, Dinas Kesehatan memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus Hantavirus di Kabupaten Bekasi.
“Per hari ini, 26 Mei 2026, Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi belum menerima laporan kasus Hantavirus baik dari rumah sakit, puskesmas maupun klinik,” kata Supriadinata.
Selain penguatan layanan kesehatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi juga memberikan pelatihan kepada tenaga kesehatan terkait screening awal dan pengenalan gejala Hantavirus. Edukasi kepada masyarakat dilakukan melalui penyuluhan serta publikasi informasi kesehatan di media sosial milik Dinas Kesehatan, rumah sakit, dan puskesmas.
Menurut Supriadinata, Hantavirus memiliki gejala yang mirip dengan penyakit lain seperti demam berdarah dan tifoid.
“Hantavirus memiliki gejala yang mirip dengan demam berdarah dan tifoid, seperti demam tinggi, nyeri otot, kelelahan, hingga sesak napas,” katanya.
Ia menjelaskan, Hantavirus umumnya ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus yang hidup di lingkungan kotor, lembap, dan dekat dengan sumber makanan maupun tumpukan sampah.
“Kalau tikus itu binatang pengerat yang suka hidup di daerah kotor dan banyak makanan, seperti dekat pasar maupun tempat pembuangan sisa makanan,” ujarnya.
Karena itu, masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan, rutin mencuci tangan, menutup lubang yang berpotensi menjadi sarang tikus, serta melakukan pengendalian populasi tikus melalui kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan.
Artikel Terkait
Menkes: Varian Baru Virus Corona Mudah Menular Namun Tak Berbahaya
Masyarakat Diminta Waspadai Virus Nipah