KanalBekasi.com - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit virus Hanta menyusul meningkatnya temuan kasus di Indonesia serta adanya laporan kasus Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) pada kapal pesiar MV Hondius yang dilaporkan otoritas kesehatan internasional.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, Andi Saguni, mengatakan hingga saat ini Indonesia belum menemukan kasus HPS. Kasus yang terdeteksi di Indonesia merupakan tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dengan strain Seoul Virus.
“Perlu kami sampaikan bahwa sampai saat ini belum ditemukan kasus HPS di Indonesia. Kasus yang terdeteksi merupakan tipe HFRS dan terus kami pantau melalui sistem surveilans nasional,” ujar dr. Andi Saguni, Kamis (14/5).
Baca Juga: Kemenkes: Virus Corona B117 Lebih Mudah Menular
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sepanjang 2024 hingga Mei 2026 tercatat sebanyak 256 kasus suspek virus Hanta dengan 23 kasus terkonfirmasi HFRS.
Kasus tersebut tersebar di sejumlah daerah seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, hingga Nusa Tenggara Timur.
Tren kasus terkonfirmasi juga mengalami peningkatan. Pada 2024 hanya ditemukan 1 kasus, kemudian meningkat menjadi 17 kasus sepanjang 2025, dan bertambah 5 kasus hingga Mei 2026.
Menurut dr. Andi, meningkatnya jumlah kasus yang terdeteksi dipengaruhi penguatan sistem deteksi dini dan kapasitas pemeriksaan laboratorium di Indonesia.
“Peningkatan kasus yang terlaporkan menunjukkan sistem kewaspadaan dan deteksi dini kita semakin baik. Karena itu masyarakat tidak perlu panik, namun tetap harus waspada terhadap faktor risiko penularan,” katanya.
Virus Hanta diketahui menular melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk melalui urin, air liur, maupun kotorannya.
Beberapa faktor risiko penularan virus Hanta antara lain aktivitas di lingkungan dengan populasi tikus tinggi, gudang tertutup, area bekas banjir, hingga kegiatan luar ruang seperti berkemah dan mendaki gunung.
Selain memantau kasus di dalam negeri, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga merespons notifikasi internasional terkait satu kontak erat kasus HPS dari kapal pesiar MV Hondius yang berada di Indonesia.
Kontak erat tersebut telah menjalani pemeriksaan di RSPI Sulianti Saroso dan hasil laboratorium menunjukkan negatif Hantavirus tipe HPS maupun HFRS.
Artikel Terkait
Stunting dan Underweight jadi Target Intervensi Kemenkes 2026
Kemenkes Resmi Atur Kandungan Gula, Garam, dan Lemak pada Minuman Kemasan