KanalBekasi.com - BPJS Kesehatan terus memperkuat akses layanan kesehatan bagi peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui perluasan layanan kesehatan canggih seperti kateterisasi jantung (cathlab), kemoterapi, hingga radioterapi. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan masyarakat memperoleh layanan kesehatan yang lebih cepat, dekat, dan merata di seluruh Indonesia.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, mengatakan penguatan layanan kesehatan menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan bagi peserta JKN yang jumlahnya kini telah mencapai lebih dari 285 juta jiwa atau lebih dari 98 persen penduduk Indonesia.
“Perluasan layanan cathlab merupakan komitmen BPJS Kesehatan dalam menghadirkan kemudahan layanan bagi peserta JKN. Kami ingin masyarakat mendapatkan akses layanan jantung yang lebih dekat, lebih cepat, dan merata sehingga peluang keselamatan pasien emakin besar,” ujar Pujo dalam keterangannya, Senin (25/5).
Menurutnya, penguatan layanan kesehatan dilakukan sejalan dengan momentum Hari Ulang Tahun BPJS Kesehatan ke-58 yang mengusung tema “Jaminan Kesehatan Berkualitas, dengan Gotong Royong Sehat Bersama” serta semangat Hari Kebangkitan Nasional.
Baca Juga: Pasien BPJS PBI Tidak Boleh Ditolak Saat Jalani Cuci Darah
Pujo menjelaskan, layanan kesehatan canggih seperti cathlab sangat penting dalam mendukung penanganan kasus kegawatdaruratan, terutama penyakit jantung dan pembuluh darah yang masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia.
Pada 2025, penyakit kardiovaskular tercatat sebagai kelompok penyakit dengan pembiayaan tertinggi dalam Program JKN dengan total biaya mencapai Rp11,83 triliun. Untuk mendukung layanan tersebut, BPJS Kesehatan telah mengalokasikan lebih dari Rp3,5 triliun untuk pelayanan cathlab dengan jumlah kasus mencapai lebih dari 138 ribu kasus atau meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun 2021.
“Kami terus mendorong pemerataan fasilitas kesehatan canggih agar peserta tidak perlu menempuh jarak jauh untuk mendapatkan layanan medis. Penanganan yang cepat sangat menentukan keselamatan pasien, khususnya pada kasus serangan jantung,” katanya.
Selain memperkuat layanan kuratif, BPJS Kesehatan juga terus meningkatkan pengawasan dan efisiensi pembiayaan melalui penguatan pencegahan fraud. Sepanjang 2025, BPJS Kesehatan berhasil melakukan efisiensi sebesar Rp6,5 triliun atau sekitar 3,4 persen dari total biaya pelayanan kesehatan.
Pujo menegaskan, efisiensi tersebut merupakan bentuk tanggung jawab dalam menjaga keberlanjutan dana gotong royong Program JKN.
“Dana JKN berasal dari gotong royong seluruh peserta. Karena itu, penguatan pencegahan fraud menjadi langkah penting agar pembiayaan kesehatan dapat dimanfaatkan secara optimal dan tepat sasaran,” jelasnya.
BPJS Kesehatan juga memperkuat upaya promotif dan preventif melalui Program Prolanis Muda yang menyasar masyarakat usia produktif. Program tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan sejak dini untuk mencegah penyakit kronis seperti diabetes melitus dan hipertensi.
“Selain fokus pada pengobatan, kami ingin masyarakat semakin sadar pentingnya pola hidup sehat. Dengan menjaga pola makan, rutin berolahraga, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, risiko penyakit kronis dapat ditekan,” pungkas Pujo.