KanalBekasi.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memperkuat sistem mitigasi bencana sebagai upaya mengurangi risiko dan dampak yang ditimbulkan oleh berbagai bencana alam di Indonesia. Langkah ini dilakukan melalui peningkatan kesiapsiagaan masyarakat, penguatan infrastruktur mitigasi, serta pemanfaatan teknologi dalam sistem peringatan dini.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menerangkan dalam implementasinya, pemasangan sensor dilakukan di sejumlah titik strategis di wilayah hulu hingga hilir aliran sungai yang memengaruhi kondisi banjir di Bekasi.
"Banjir di wilayah Kota Bekasi terus dilakukan melalui pengembangan Sistem Early Warning System (EWS). Sistem ini dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dalam memantau kondisi hidrologi secara real time serta memberikan peringatan dini kepada masyarakat di wilayah rawan banjir," katanya Mingu (8/3)
Salah satunya pemeriksaan EWS yang dilakukan di Bendung Prisdo Bekasi Timur Kota Bekasi, Beberapa lokasi lainya antara lain kawasan hulu Sungai Cileungsi di Cibongas (Babakan Madang - Kabupaten Bogor), segmen tengah Sungai Cileungsi (Cileungsi -Kabupaten Bogor), titik pertemuan Sungai Cileungsi - Cikeas (P2C), Bendung Prisdo (Bekasi Timur - Kota Bekasi), hingga Sungai Cikeas (Gunung Putri - Kabupaten Bogor) yang berada di hilir Sungai Bekasi.
"Titik-titik ini dipilih karena memiliki peran penting dalam memantau perubahan debit air yang dapat memicu banjir di wilayah permukiman di Kota Bekasi," ujarnya.
Selain pemasangan sensor pemantauan, sistem ini juga dilengkapi dengan perangkat sirine peringatan yang dipasang pada kawasan permukiman rawan banjir seperti Bekasi Jaya (Bekasi Timur), Jaka Kencana (Bekasi Selatan), Teluk Pucung (Bekasi Utara), dan Mitra Lestari (Jatiasih).
"Wilayah-wilayah tersebut dipilih karena memiliki riwayat kejadian banjir yang cukup tinggi serta berada dekat dengan aliran sungai utama, sehingga membutuhkan sistem penyebaran informasi peringatan dini yang cepat dan efektif kepada masyarakat," paparnya.
Pengembangan sistem ini mengintegrasikan berbagai perangkat teknologi pemantauan seperti sensor tinggi muka air Automatic Water Level Recorder (AWLR), sensor curah hujan, kamera pemantau, serta dashboard visualisasi data yang dapat menampilkan kondisi sungai secara langsung. Data yang diperoleh dari berbagai sensor tersebut akan diproses secara real time dan ditampilkan melalui sistem dashboard yang memungkinkan petugas memantau dinamika debit air serta status potensi banjir secara cepat dan akurat.
Perangkat ini bekerja secara otomatis tanpa operator, sehingga diharapkan mampu memberikan peringatan dini secara cepat dan presisi kepada masyarakat jika terjadi peningkatan potensi banjir. Dengan informasi yang lebih awal, masyarakat dapat segera melakukan langkah antisipasi seperti evakuasi atau pengerahan sumber daya.
Apresiasi Pemerintah Kota Bekasi
Sementara itu Walikota Bekasi Tri Adhianto Tjahyono menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) atas dukungan pemerintah pusat dalam penguatan upaya mitigasi banjir melalui pemasangan EWS di Kali Bekasi.
"Sistem peringatan dini tersebut memberikan dampak positif bagi masyarakat karena mampu memberikan informasi lebih awal terkait potensi kenaikan muka air, Terima kasih BNPB kami sangat apresiasi," ujar Tri
Meski pada awal pengoperasian sirine sempat membuat masyarakat terkejut, namun hal tersebut dinilai sebagai bagian dari proses adaptasi masyarakat terhadap sistem peringatan dini.
Menurutnya, pengalaman banjir besar pada tahun 2025 menjadi pelajaran penting bagi Pemerintah Kota Bekasi. Saat itu, banjir melumpuhkan aktivitas kota hingga hampir dua hari, termasuk merendam kawasan pusat pemerintahan di Jalan Ahmad Yani.
"Dengan teknologi tersebut, pemerintah dapat memperkirakan waktu kedatangan aliran air di titik-titik tertentu secara lebih akurat sehingga langkah antisipasi dapat dilakukan secara tepat waktu," tambahnya.
Selain itu, menjelang periode libur Lebaran, Pemerintah Kota Bekasi tetap menyiagakan seluruh perangkat penanganan banjir. Petugas terkait tetap bertugas dan tidak diberlakukan kebijakan bekerja dari rumah (WFH) maupun libur bagi personel yang terlibat dalam penanganan kebencanaan.
"Pemerintah Kota Bekasi berharap sinergi dengan BNPB dalam penguatan sistem peringatan dini banjir dapat terus diperluas ke lebih banyak titik sehingga kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana banjir semakin meningkat," tukasnya..(red)