KanalBekasi.com - Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya aktivitas sejumlah gelombang atmosfer seperti Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG), yang terpantau melintasi sebagian wilayah Indonesia. Beberapa gelombang tersebut berperan dalam memodulasi proses konvektif pada skala yang lebih luas, sehingga mendukung pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah.
Selain itu, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) yang berada pada fase 2 (dua) turut berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan, khususnya di wilayah barat Indonesia (Pesisir Barat Sumatra), serta terpantau aktif secara spasial melintasi sebagian wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.
Melalui siaran resminya, Sabtu (2/5) BMKG menyebut faktor lokal seperti pemanasan permukaan yang cukup kuat pada siang hari serta kelembapan udara yang masih relatif tinggi juga berkontribusi dalam mendukung terbentuknya awan-awan hujan.
Di sisi lain, suhu maksimum harian yang relatif tinggi juga masih teramati di sejumlah wilayah, antara lain Sumatra Utara (36,8°C), Aceh (36,6°C), Banten (36,2°C), Sulawesi Tengah (35,9°C), Kalimantan Tengah (35,8°C), dan Bengkulu (35,8°C). Hal ini menunjukkan bahwa pemanasan pada siang hari masih berlangsung cukup kuat di beberapa wilayah.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh intensitas radiasi matahari pada siang hari yang masih cukup tinggi, serta mulai menguatnya monsun Australia. Monsun ini biasa ditandai dengan dominasi angin timuran, yang membawa massa udara relatif lebih kering. Dampaknya, tutupan awan pada pagi hingga siang hari cenderung berkurang sehingga radiasi matahari dapat diterima lebih optimal di permukaan dan mendorong peningkatan suhu udara.
Baca Juga: El Nino Bikin Cuaca Kemarau Terasa Lebih Panas
Monsun Australia diprakirakan menguat dalam beberapa hari ke depan, ditandai dengan pola angin zonal yang semakin didominasi oleh angin timuran di sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi ini berperan dalam membawa massa udara yang relatif kering dari wilayah Australia menuju Indonesia, sekaligus menjadi indikasi bahwa sejumlah daerah mulai beralih secara bertahap dari periode musim hujan menuju musim kemarau.
Pola peralihan musim ini terlihat dari perbedaan suhu udara yang cukup signifikan antara pagi dan siang hari. Pada pagi hingga siang hari, radiasi matahari yang intens menyebabkan proses konveksi yang tinggi, yang kemudian memicu pembentukan hujan lokal pada sore hingga malam hari. Hujan yang terjadi biasanya tidak merata, dengan intensitas sedang hingga lebat dan durasi yang singkat, serta berpotensi disertai kilat dan angin kencang.
Kombinasi radiasi matahari yang tinggi dan kelembaban udara yang cukup dapat menyebabkan suhu yang relatif panas pada pagi hingga siang hari, diikuti dengan kondisi hujan yang signfikan pada sore hingga malam hari.
Baca Juga: Modifikasi Cuaca BNPB Tekan Intensitas Hujan di Jawa Barat
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang-lebat yang terjadi di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kep. Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kep. Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua, dan Papua Selatan.
Hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi, BMKG berharap adanya peringatan dini di wilayah yang berpotensi terdampak cuaca ekstrem sehingga dapat di lakukan langkah antisipatif di lingkungan sekitar guna meminimalkan potensi dampak cuaca ekstrem. (Sugeng R)
Artikel Terkait
Hujan Es di Menteng, BMKG Wanti-wanti Cuaca Ekstrem
Jabodetabek Dilanda Cuaca Panas Ekstrem, Warga Diminta Waspada Dehidrasi