KanalBekasi.com - Dakwah walisongo yang dilakukan para pembawa ajaran Islam yaitu dengan memadukan budaya yang sudah ada dengan memasukkan ajaran-ajaran Islam. Sehingga Islam tidak menghilangkan susunan budaya asli yang sudah melekat pada tatanan masyarakat Jawa, melainkan Islam datang untuk membenahi ajaran-ajaran yang sudah ada.
Pemerhati budaya jawa, Wardoyo Kartomiharjo menyebut dakwah walisongo tidak pernah menabrak aturan di masyarakat yang saat itu berlaku
“Adapun beberapa budaya masyarakat Jawa yang berhasil dipadukan dengan ajaran Islam diantaranya adalah upacara Selametan yang berkaitan dengan orang wafat pada hati ketiga, ketujuh dan hari keempat puluh yang di dalamnya sudah terdapat lafal-lafal Allah dan wirid-wirid Islam lainnya. “terangnya ketika di temui di kawasan TMII, Jakarta Timur, sabtu (19/5/2018).
Dengan adanya perpaduan ini tradisi lama otomatis sudah mendapatkan label Islam. Demikian pula upacara Selametan Akbar yang dilaksanakan oleh sultan, dengan nama gunungan dalam upacara Grebeg Maulud, Grebeg Syawal dan Grebeg Besar, disamping mendapat cap Islam, upacara tersebut juga ditujukan untuk merayakan hari besar Islam.
Wayang sejak dahulu, lanjut Wardoyo, dimaknai sebagai sumber ilham dan penggambaran wujud tokoh serta cerita, sehingga menggambarkan dengan jelas batin si penggambar (dalang).
“Di masa lalu para ulama dan para wali melakukan pendekatan akulturasi melalui media dakwah yang telah menjadi warisan budaya leluhur Indonesia, sehingga proses tersebut berjalan begitu harmonis.”pungkas Wardoyo
Wayang pun dijadikan media dakwah oleh Walisongo di Jawa pada zaman kedatangan Islam. Mereka berupaya untuk mendiplomasikan antara seni wayang yang berbau non-Islam dengan ajaran Islam. Berkat peranan mereka, seni wayang terutama wayang kulit oleh sebagian pihak dimaknai mengandung ajaran Islam (tarekat) dalam setiap aspeknya, meskipun masih berkisah tentang epik-epik India Hindu-Budha.
Wardoyo menambahkan tak hanya bentuknya saja, ajaran-ajaran dan pesan moral Islam banyak disisipkan dalam cerita dan pemaknaan wayang. Seperti contoh dalam lakon Bima Suci, dimana Bima sebagai tokoh sentralnya diceritakan meyakini adanya Tuhan yang Maha Esa.
Tuhan yang Maha Esa itulah yang menciptakan dunia dan segala isinya. Dengan keyakinannya itu, Bima mengajarkan kepada saudaranya, Janaka. “Lakon ini juga berisi ajaran-ajaran tentang wajibnya menuntut ilmu, bersikap sabar, berlaku adil dan bertatakrama dengan sesama manusia.” Tuturnya
Menurutnya Walisongo mengadopsi kisah-kisah dari kitab Mahabarata dan Ramayana yang merupakan bagian dari kitab suci Hindu dan memasukkan unsur nilai-nilai Islam dalam plot cerita tersebut. Bahkan, wayang pun dikonstruksi ulang dengan memasukkan teologi Islam sebagai pengganti teologi Hindu.
Pada prinsipnya, Walisongo mengadopsi instrument budaya wayang dan memasukkan nilai-nilai Islam untuk menggantikan filsafat dan teologi Hindu serta Budha yang terdapat di dalamnya.
Sebagai contoh, Walisongo memodifikasi makna konsep “Jimat Kalimah Shada” yang asalnya berarti “Jimat Kali Maha Usada” yang bernuansa teologi Hindu menjadi bermakna ”azimah kalimat syahadah”. Frase yang terakhir merupakan pernyataan seseorang tentang keyakinan bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
Keyakinan tersebut merupakan spirit hidup dan penyelamat bagi kehidupan setiap orang. Dalam cerita pewayangan, Walisongo tetap menggunakan terma tersebut untuk mempersonifikasi senjata terampuh bagi manusia.
“Hanya saja, jika perspektif Hindu, jimat tersebut diwujudkan dalam bentuk benda simbolik yang dianggap sebagai pemberian Dewa, maka Walisongo mendesakralisasi formula tersebut sehingga sekedar sebagai pernyataan tentang keyakinan terhadap Allah dan Rasulnya.” Tutupnya (sgr)