KanalBekasi.com - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG Pusat menyatakan peringatan dini tsunami yang disebabkan gempa bumi 7,0 Skala Richter di Lombok, Nusa Tenggara Barat telah berakhir.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati melalui pesan persnya juga mengimbau masyarakat menjauhi bibir pantai.
"Meski prediksi gelombang paling tinggi hanya setengah meter, kami minta masyarakat segera menjauhi bibir pantai dan mencari tempat yang jauh lebih tinggi. Upayakan untuk tetap tenang dan tidak panik," kata dia.
Informasi dari Bagian Humas BMKG di Jakarta, Minggu 5 Agustus 2018 menyebutkan, peringatan dini tsunami telah berakhir pukul 20.25 WIB.
Sebelumnya, BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami setelah gempa bumi 7,0 Skala Richter mengguncang NTB pukul 18.46 WIB.
Ciri Gempa berpotensi tsunami
Kepala BMkG Dwi Korita menjelaskan bagaimana ciri dan tipe tsunami. Menurutnya tsunami paling merusak dihasilkan dari gempa besar dan dangkal dengan pusat gempa atau patahan di dekat atau di dasar laut. Namun, tidak semua gempa besar berpotensi tsunami.
Dwi menyebut daerah yang ditandai subduksi tektonik (zona yang terdapat pada batas antarlempeng yang bersifat memusat) di sepanjang batas lempeng tektonik. Tingginya seismisitas (daerah persebaran gempa) di suatu daerah disebabkan oleh benturan lempeng tektonik.
“Lempeng -lempeng ini saling melewati satu sama lain, akan menyebabkan gempa besar yang membuat area dasar laut bergerak miring dan bergeser dari mulai beberapa kilometer hingga 1.000 kilometer atau lebih,” papar Dwi
Perpindahan vertikal secara tiba-tiba di area yang begitu luas ini mengganggu permukaan laut. Dasar laut menjadi naik turun, mengganggu keseimbangan air laut, dan menghasilkan gelombang tsunami.
Gelombang bisa menempuh jarak yang jauh dari wilayah sumber, lalu menyebarkan kehancuran di sepanjang wilayah yang dilaluinya.
Misalnya, tsunami besar tahun 2004 di Aceh dihasilkan oleh gempa berskala 9,1 magnitudo.
“Peringatan tsunami kita berdasarkan database pemodelan tsunami indonesia dari decision support system (DSS) yang dioperasikan oleh Sistem Peringatan Dini Tsunami BMKG,” tutur Dwi
Database ini diambil dari skema wilayah Indonesia yang berpotensi tsunami, dengan melihat lokasi episenter, kedalaman hiposenter, dan mekanisme sumbernya.
DSS akan menganalisis gempa berdasarkan parameter gempa yang diperoleh. Kemudian, input parameter tersebut akan digunakan untuk menentukan daerah mana saja yang akan terdampak, dengan hasil perkiraan waktu tiba dan ketinggian tsunami.
“Acuannya adalah estimate time arrival ditambah dua jam,” tutur Dwi
Dengan kata lain, tsunami tak hanya tergantung gempa, tapi juga kerawanan daerah.(sgr)