ragam

Bunuh 22 Serdadu Inggris, Bekasi Dibombardir Sekutu

Jumat, 17 Agustus 2018 | 13:41 WIB
Media Australia memberitakan tragedi di Bekasi

kanalBekasi.com - Buntut dari tewasnya 22 orang tentaranya yang tewas Inggris pun murka. Karena rakyat Bekasi lebih memilih bungkam untuk tidak memberitahu siapa pelaku pembunuhan dan dimana keberadaan mereka, membuat pihak Inggris semakin kesal luar biasa. Setelah 10 hari sejak ditemukannya mayat tentara Inggris dan India, mereka belum juga menemukan para pelakunya.

Akhirnya Letnan Jenderal Sir Philips Christison memutuskan untuk memberi hukuman bagi seluruh warga Bekasi. Tanggal 12 Desember 1945, pasukan Inggris berdasar perintah dari Jenderal Sir Philips Christison bersiap-siap. Baik dari aspek pasukan, persenjataan, maupun kendaraan tempur disiapkan dengan baik. Tidak kalah penting adalah minyak tanah dan alat pembakar lainnya untuk membakar rumah dan bangunan.

-
Mendapatkan kabar bahwa Bekasi akan diluluhlantahkan, penduduk dan para pejuang mulai mengungsi ke tempat yang jauh dari Bekasi.

Setelah diketahui secara pasti bahwa para tentara Inggris telah dibunuh semua oleh pejuang Republik di Bekasi. Selain itu juga para pejuang juga enggan untuk menyerahkan dan bahkan meminta pihak Inggris untuk mengambil sendiri, membuat Inggris mengerahkan pasukan untuk mengambil jenazah tentaranya.

Pertimbangan membawa pasukan dan sejumlah alat berat menuju Bekasi adalah saat mereka hendak balik dari lokasi pendaratan darurat pesawat di Cakung pada 23 November 1945, terjadi perlawanan yang cukup sengit dari rakyat. Jumlahnya mencapai sekitar 100 orang dengan persenjatan tajam.

Pertempuran yang sengit itu membuat 25 orang pejuang gugur, 20 orang luka, dan 15 orang lainnya menjadi tawanan. Sedangkan dipihak Inggris hanya satu yang tewas dan sedikit yang terluka. Diwaktu yang sama, lima orang tawanan tewas saat hendak melarikan diri. Sebelum balik ke Jakarta, sekitar 200 rumah di sekitar pertempuran (Cakung) dibakar oleh tentara Inggris.

Dalam arsip Imperial War Museum, dijelaskan bahwa prajurit dari Rajput’s 4/7th dan tank Sherman dari Lancers 13, dan bisa memanggil dukungan artileri dari 336 Artileri Medan, merupakan pasukan yang dikerahkan pada 29 November 1945 ke Bekasi.

Pertempuran Rawa Pasung


Pada 29 November 1945 pagi, tentara sekutu dan NICA dari arah Pulo Gadung menuju ke Bekasi dengan kendaraan lapis baja, truk yang membawa tentara, serta tentara yang berjalan di kanan-kiri jalan. Iring-iringan yang cukup besar tersebut berhasil menembus pertahanan di sekitar Kali Cakung.

Sebelumnya, pejuang yang sedang berjaga diperbatasan segera menginformasikan markas di Bekasi tentang kedatangan pasukan Inggris dalam jumlah besar. Para pejuang di Bekasi kemudian mengatur strategi untuk menahan laju pihak Sekutu dan Belanda.

Kemudian ditetapkanlah penghadangan dilakukan di perlintasan rel yang membelah jalan utama di Kranji (sekarang di bawah dan sebelum fly over Kranji dari arah Pulo Gadung).
Kekuatan bersenjata saat itu yang dimiliki adalah TKR dan sejumlah laskar. Mereka terdiri dari BBRI, Laskar Rakyat, dan Perguruan Pencak Silat asal Subang pimpinan Haji Ama Raden Uce Puradiredja.

Persenjataan yang digunakan hanya mengandalkan beberapa pucuk senjata Carabijn, senapan mesin ringan, bambu runcing, golok, keris, tombak, panah, dan granat tangan. Dengan kekuatan yang tidak imbang tersebut, kemudian dipecah dalam formasi: bagian selatan dan timur pintu kereta api ditempati TKR yang dipimpin oleh Mayor Sambas Admadinata dan BBRI yang dipimpin oleh M. Husein Kamaly serta orang tuanya Haji Riyan. Bagian utara pintu kereta api dijaga oleh Laskar Rakyat, serta sebelah barat dan utara dikuasai oleh Perguruan Pencak Silat.

Karena senjata yang dimiliki tidak imbang, maka cara bertempurnya dengan melakukan pertempuran jarak dekat. Dengan begitu, membuat senjata Sekutu tidak terlalu berfungsi. Strategi ini selalu dilakukan oleh pihak Indonesia dalam tiap pertempuran.

Taktik dimulai dengan menutup perlintasan kereta api dengan palang pintu. Pasukan sekutu mengira akan ada kereta api yang akan lewat. Para pejuang sebelumnya telah memasukkan semua senjata ke dalam baju, sarung yang dililit di perut hingga tidak terlihat dari luar, atau diletakkan disuatu tempat. Untuk kamuflase, mereka berbincang santai sambil merokok.

Banyak juga yang bersembunyi. Pasukan Inggris dan Belanda mengira mereka hanyalah petani biasa yang pergi ke sawah. Namun disaat mereka lengah, dalam waktu singkat terjadi pertempuran jarak dekat yang cukup sengit.

Seiring pekikan takbir, anggota Pencak Silat dan para pejuang lainnya menyergap. Mereka melompat ke panser, tank, maupun truk. Dengan berbagai senjata tajam dan ilmu bela diri, mereka menghujam semua tentara yang mereka hadapi. Karena serangan yang tidak diduga, pihak sekutu tidak sempat melakukan perlawanan berarti. Dengan sigap, pasukan sekutu pun mundur.

Akibatnya, terdapat 6 orang dari pejuang dan sejumlah tentara sekutu yang gugur. Pihak pejuang berhasil merampas 12 senapan mesin dan 10 carabijn. Mereka juga berhasil menghancurkan sejumlah kendaraan dengan jalan melempar granat-granat dari jaraka dekat.

Ternyata kebulatan tekad dan ramuan strategi yang tepat, membuat pihak Inggris mundur. Padahal persenjataan mereka lebih lengkap. Peristiwa kemenangan ini pun diabadikan dalam relief di monumen perjuangan depan Gedung Juang Tambun maupun relief di Taman Makam Pahlawan Bekasi di Bulak Kapal.(AIM/sgr/ek)

Tags

Terkini