ragam

Jejak Perjuangan Rakyat Bekasi dalam Monumen dan Gedung Bersejarah

Kamis, 21 Mei 2026 | 23:16 WIB
Monumen perjuangan rakyat

KanalBekasi.com - Bekasi masuk ke dalam katagori sebagai daerah yang sering mengalami peristiwa-peristiwa pertempuran. Oleh sebab itu, Bekasi sering disebut sebagai ‘Kota Patriot’ sebagian besar peristiwa pertempuran tersebut diabadikan dalam berbagai bentuk peninggalan sejarah. Salah satunya, berbentuk monumen. Berikut beberapa peninggalan sejarah di Bekasi.
 
Monumen Alun-alun
Monumen ini didirikan pada tanggal 5 Juli 1955 dan terletak di Jalan veteran Kota Bekasi atau lebih tepatnya di depan Markas Kodim 0507 Bekasi. Bentuk dari monumen ini adalah persegi lima dan terbuat dari batu bata dengan tinggi 5.08 centimeter, termasuk dasar tugu yang dikelilingi oleh pagar tembok dengan tinggi 1 meter. Dan masing-masing 3 meter (berbentuk segi lima dengan pengertian Pancasila).
Monumen ini didirikan untuk memperingati berbagai peristiwa yang terjadi di Bekasi, diantaranya :
 
a.   Peristiwa bulan Agustus 1945 (bertepatan dengan Proklamasi Kemerdekaan RI).
b.   Peristiwa awal bulan Februari 1950 (penentuan Revolusi Rakyat Bekasi-keinginan Rakyat Bekasi.

Tugu ini didirikan pada masa peringatan Bupati Abdul Fatah 1975. Dan diresmikannya oleh Gubernur Daerah tingkat I Provinsi Jawa Barat dan terletak di Jalan Jenderal Ahmad Yani. Bentuk monumen ini berupa tugu yang berjumlah lima buah bambu. Dengan bagian puncaknya dibuat meruncing berhadapan satu sama lain dan tingginya 17 meter sebagai Replika Kelima Sila Pancasila. Dan gambaran komitmen untuk senantiasa memelihara “Persatuan Kesatuan Bangsa”

Baca Juga: ARH Dukung Pembangunan Monumen Sasak Kapuk, Minta Sejarah Tidak Dilupakan.
 
Pada bagian tengah terdapat kolam berbentuk lima tiang pancang (melambangkan pancasila) dan pancaran air mancur sebanyak 18 buah. Kolam ini menggambarkan nikmat Allah SWT, yang sangat besar bagi daerah Bekasi. Dibagian belakang tugu ini terdapat Relief yang menggambarkan perjuangan rakyat Bekasi dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan dan tata kehidupan masyarakatnnya yang kuat dan dipaparkannya dalam empat periode, sebagai berikut.
 
a.    Periode pertama, Bekasi pada masa pemerintahan Hindia Belanda
b.   Periode kedua, Bekasi pada masa penduduk Jepang.
c.    Periode ketiga, masa Revolusi Kemerdekaan RI
d.   Periode keempat, era pembangunan di Bekasi
 

Monumen kali bekasi

Monumen Kali Bekasi
Insiden Kali Bekasi memiliki arti yang sangat dalam bagi rakyat Bekasi, menggambarkan keberanian rakyat Bekasi, sekaligus tragis. Kali Bekasi merupakan garis demarkasi antara tentara sekutu (Inggris dan NICA) yang menduduki Jakarta dengan laskar-laskar republik yang bertahan di seberang kali dibagian timur.
 
Akibat pendudukan Jepang yang kejam terhadap rakyat Bekasi. Pemuda dan rakyat Bekasi bertindak sendiri dengan menangkap orang-orang Jepang atau bahkan siapa saja yang diduga telah bekerjasama dengan Jepang. Pemuda dan rakyat Bekasi menghentikan setiap kereta api yang melintas ke Bekasi baik yang keluar maupun ke Jakarta.
 
Pada 19 Oktober 1945 meluncur kereta dari Jakarta yang mengangkut tawanan Jepang menuju Ciater, kerata itu pun lolos dari hadangan, setibanya di Cikampek dihentikan oleh para pejuang setempat, dan diperintahkan untuk kembali ke Jakarta. Ternyata rakyat Bekasi sudah menunggu. Sesampainya di Stasiun Bekasi seluruh gerbong digededah dan ditemukan 90 orang tentara Jepang.

Rakyat beringas ketika ditemukan senjata api milik seorang tawanan, kemudian seluruh tentara Jepang wajib menyerahkan persenjataannya. Disitu juga, seluruh tawanan ditempatkan di Rumah Gadai tepi Kali Bekasi yang dijadikan lokasi penjara sementara. Padahal, awak kereta ketika itu sudah mencegah penggeledahan terhadap tawanan dengan menunjukan surat perintah jalan dari Menteri Subardjo yang ditandatangani Bung Karno.
 
Rakyat Bekasi sepertinya tak mempedulikan. Kemarahannya sudah memuncak karena pengalaman sejarah yang begitu kejam pada masa kependudukan Jepang. Seusai Maghrib, seluruh tawanan digelandang ke tepi Kali Bekasi kemudian Kali Bekasi yang jernih kemudian ditutupi darah.
 
Kini, Monumen Kali Bekasi dibangun dan ditempatkan di pinggir Kota Bekasi, dekat jembatan menghubungkan Kecamatan Bekasi Selatan dengan Bekasi Timur. Monumen itu dibuat untuk memperingati insiden Kali Bekasi. Pembangunannya atas dasar kerjasama Pemerintah Kota Bekasi dengan pemerintah Jepang yang menggambarkan pesan perdamaian dan cinta kasih.

 

Gedung Papak di jl Ir H Juanda, Bekasi timur

 

Gedung Papak
Gedung bersejarah terletak di Jalan H. Juanda Kecamatan Bekasi Timur Kota Bekasi. Gedung ini merupakan salah satu bangunan bersejarah yang turut memberikan kesaksian atas perjuangan rakyat Bekasi pada masa revolusi fisik.
 
Secara historis, gedung Papak ini dahulu milik seorang keturunan Tionghoa bernama Lee Guan Chin. Dia seorang pengusaha yang memiliki banyak pabrik penggiilingan beras. Namun, yang paling dicatat Guan Chin ternyata memiliki loyalitas yang tinggi terhadap perjuangan rakyat Bekasi. Juga Guan Chin memiliki hubungan yang baik dengan gerakan kerakyatan pimpinan KH Noer Alie. Bahkan, gedung itu diserahkan secara sukarela sebagai salah satu markas perjuangan rakyat Bekasi.
 
Pada masa revolusi fisik, Gedung Papak dijadikan salah satu basis pertahanan di front pertahanan Bekasi-Jakarta (Kamaly 1983). Pertempuran-pertempuran terus berlangsung di sekitar daerah Jakarta Timur hingga Bekasi. Bahkan, pertempuran yang dahsyat terjadi di Bekasi dan sekitarnya berlangsung antara bulan September 1945 hingga 1949.
 
Setelah perang kemerdekaan, sejak tahun 1967 Gedung Papak menjadi rumah Dinas Bupati pada masa Bupati Soebandi. Bahkan, pada jabatan periode pertama (hingga tahun 1982) Bupati H Abdul Fatah sempat menempatinya. Pada tahun 1982 seiring pembentukan Kota Administratif Bekasi, Gedung Papak kemudian menjadi rumah dinas wali kota sejak masa wali kota H Soejono hingga masa H Kailani.
 
Oleh karena itu, tanpa mengubah bentuk bangunan sangat baik bila dimanfaatkan sebagai ruang publik dalam rangkaian peningkatan kecitraan atau kecintaan pada daerah ataupun budaya daerah Bekasi. Hal ini dapat difungsikan sebagai ruang perpustakaan, galeri, dan lain sebagainya.

Tags

Terkini