KanalBekasi.com - Maraknya angkutan online di Kota Bekasi dikeluhkan para sopir angkutan kota (angkot). Angkutan semisal ojek online dan lainnya disinyalir menggerus pendapatan supir angkot hampir separuh dari saat ketika angkutan online belum beredar. Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Kota Bekasi, Fatikhun, tengah merumuskan angkutan kota berbasis daring. Hal ini dinilai dapat membantu pendapatan angkot karena terseret arus transportasi modern.
"Intinya kami mencari formula yang terbaik, karena informasi yang kami dapat penghasilan mereka menurun. Setoran mereka saat ini berkisar Rp20.000-Rp30.000," ujarnya, Kamis (7/2)
Baca juga: Dishub Usulkan Perda Penindakan Parkir Liar
Ia mengungkapkan usulan angkot berbasis daring ini disertai dengan pembuatan aplikasi guna modern, nantinya operasional angkot bisa diakses supir, perusahaan pemilik angkot, juga masyarakat calon penumpang sehingga terpantau di mana saja angkot tersebut mengambil rute atau titik berhenti tempat penumpang naik.
Dengan adanya aplikasi ini, lanjut Fatikhun, Dishub berencana mengatur jalur angkot dengan sistem zonasi sehingga masyarakat yang biasanya tidak dalam jangkauan angkot kedepan bisa lebih mudah mengaksesnya.
"Misal zona per kecamatanan, jadi angkot bergerak penuh di titik kecamatan. Soal trayek terkait aturan induk di kementerian masih dipelajari," ujar Fatikhun.
Ia menambahkan pihaknya saat ini masih dalam tahap kajian dan sosialisasi kepada perusahaan-perusahaan angkot terkait rencana ini, sambil merumuskan aplikasi angkot berbasis daring.
“Uji coba penerapan angkot daring sudah dilakukan dengan mengambil Kecamatan Rawalumbu dan Bekasi Timur sebagai rutenya.
Sebagai informasi Organisasi Pengusaha Angkutan Daerah (Organda) menyebut Jumlah angkot konvesional di Kota Bekasi mencapai 3.200 unit. Selang maraknya angkutan online berbasis aplikasi hingga saat ini tersisa 1500 sampai dengan 2000 unit.(sgr)