KanalBekasi.com — Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap temuan awal terkait kecelakaan maut di perlintasan sebidang Jalan Ampera, Bekasi Timur, yang melibatkan KRL Commuter Line, taksi Green SM, dan KA Argo Bromo Anggrek.
Berdasarkan temuan awal, KNKT menyoroti minimnya pembekalan terhadap pengemudi taksi listrik Green SM yang diketahui baru tiga hari bekerja setelah diterima melalui proses job fair.
Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, mengatakan berdasarkan data onboard unit kendaraan, tidak ditemukan adanya gangguan sistem pada mobil sebelum kecelakaan terjadi.
Namun, pihaknya menemukan fakta bahwa sopir belum mendapatkan edukasi teknis yang memadai terkait pengoperasian kendaraan listrik.
“Pengemudi yang terlibat laka baru diterima melalui job fair dan baru bekerja tiga hari,” ujar Soerjanto di video kutipan dalam rapat kerja di Komisi V DPR RI, Kamis (21/5).
Ia menjelaskan, pelatihan yang diberikan perusahaan hanya sebatas pengenalan dasar seperti cara menyalakan mobil, penggunaan transmisi, lampu indikator, parkir, hingga sabuk pengaman.
Sementara edukasi mengenai penanganan kondisi darurat atau error sistem kendaraan disebut tidak diberikan secara mendalam.
“Tidak ada edukasi mengenai teknis kendaraan atau penanganan sistem saat terjadinya error,” katanya.
Berdasarkan hasil investigasi awal KNKT, kendaraan sempat melaju normal dari arah utara menuju selatan perlintasan dengan posisi transmisi “D” atau drive dan kecepatan sekitar 15 kilometer per jam. Namun, saat memasuki jalan menurun dengan kemiringan sekitar 2,9 persen, posisi transmisi mendadak berubah menjadi “N” atau netral.
Mobil kemudian meluncur perlahan dengan kecepatan sekitar 3 hingga 7 kilometer per jam menuju rel kereta.
“Kami tidak tahu kenapa kok di posisi netralkan,” ungkapnya.
KNKT menyebut pengemudi sempat melakukan pengereman ringan sambil membiarkan kendaraan meluncur hingga masuk ke area perlintasan rel. Saat berada di atas rel, sopir mulai menginjak pedal gas hingga 25 persen, namun kendaraan tidak bergerak karena transmisi masih berada di posisi netral.
Upaya menginjak gas terus dilakukan hingga mencapai 51 persen, tetapi mobil tetap tidak berjalan,” pungkasnya. Temuan ini memunculkan pertanyaan terhadap sistem perekrutan dan pelatihan pengemudi kendaraan listrik taksi Green SM, terutama bagi sopir baru yang belum memiliki pengalaman maupun pemahaman teknis terkait karakter kendaraan listrik. (Robby Yahya)
Artikel Terkait
VinFast Indonesia Masih Tunggu Hasil Investigasi Kecelakaan Taksi Green SM di Bekasi
Kecelakaan KRL dan Taksi Green SM di Bekasi Timur, Sopir Resmi jadi Tersangka