pemerintahan

Sekda Kota Bekasi: Saya Tak Punya Kepentingan Apa-apa di Pilkada

Kamis, 29 Maret 2018 | 19:06 WIB
Sekretaris Daerah Kota Bekasi, Rayendra Sukarmadji, saat memberikan keterangan kepada wartawan di ruanng rapat Kantor Sekda, Kamis (20/3)

KanalBekasi.com – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bekasi, Rayendra Sukarmadji menyatakan, bahwa dirinya tidak memiliki kepentingan di Pilkada Kota Bekasi 2018.


Sebab, pengabdiannya sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), akan berakhir pada bulan Agustus 2018 mendatang.


Karena itu, Rayendra membatah tudingan pelanggaran netralitas Apratur Sipil Negara (ASN) yang ditujukan kepadanya.


“Saya tidak punya kepentingan apa-apa. Jujur, tidak ada kepentingan apa-apa. Saya Bulan Agustus pensiun. Apa yang saya cari? Saya Agustus pensiun. Mungkin setelah saya pensiun bisa saya jadi media saja, atau jadi konsultan atau dosen,” ungkap Sekda saat menggelar konferensi pers di ruang rapatnya, Kantor Pemerintahan Kota Bekasi, Kamis (29/3).


Selain itu ditegaskan dia, bahwa rekaman sambutannya di Aula Nonon Shontanie yang dilaporkan kepada Panwaslu Kota Bekasi, pada tanggal 10 Maret 2018, lantaran dianggap tidak netral juga dibantah oleh Rayendra.


“Saya selaku pimpinan Apel melakukan sambutan itu pada Selasa, tanggal 13 Maret di Plaza Pemkot Bekasi. Itu terbuka, semuanya mendengar. Cuma dalam laporan, saya dilaporkan pada tanggal 10 Maret di Aula Nonon Shontanie dan itu sudah salah,” ujarnya.


 

Bantah Pengaruhi ASN ke Satu Paslon

 

-
Sekretaris Daerah Kota Bekasi, Rayendra Sukarmadji, saat diwawancarai wartawan, Kamis (29/3)

Rayendra Sukarmadji juga membantah soal sambutannya tersebut yang dianggap mempengaruhi atau mengajak seluruh ASN Pemkot Bekasi pada kegiatan apel yang dilakukan tanggal 13 Maret 2018, untuk memilih salah satu pasangan calon Wali Kota dan Wali Kota Bekasi pada Pilkada 2018.


Sebab, menurut dia, setiap ASN tentu telah memiliki pilihan sendiri, tanpa harus dipengaruhi atau diarahkan kepada salah satu paslon.


“Pertama saya menyampaikan ASN harus tetap displin, komitmen dan profesional. Saya memerintahkan agar menyerap anggaran sesuai dengan apa yang sudah diatur oleh Simbda yang ada. Kedua Logo soal hati itu memang saya yang menyuruh seluruh kepala SKPD, OPD untuk memasangnya karena hari ini kita sudah tidak ada lagi Wali Kota dan Wakilnya. Artinya logo itu untuk tetap memberikan semangat kepada ASN, agar menyatukan hati dengan kerja ikhlas memberikan pelayanan kepada masyarakat. Kebetulan beliau (Rahmat Effendi) mendapatkan nomor urut 1. Masa saya harus bilang dua kan hati atau tiga kan hati, kan tidak mungkin,” ulasnya.

“Namun setelah itu dilaporkan juga dan saya dipanggil oleh Panwaslu dan Panwaslu menyarankan agar logo itu dilepas, saya melepasnya dan langsung saya perintahkan seluruh OPD, Kepala SKPD untuk mencopotnya sesuai arahan Panwaslu. Saya bilang kepada mereka terserah mau dipasang apa,” sambung Rayendra.


Menurutnya, palaporan dugaan netralitas yang dialamatkan kepadanya itu, bisa ia laporkan balik. Namun hanya saja, katanya, hal itu akan memperkeruh suasana pilkada kota bekasi yang kini sedang berjalan.


“Mohon maaf, saya kan punya hak hukum. Bisa saja kalau saya ingin menuntut balik, bisa saja. Tadinya saya tidak ingin berpolemik. Ya namanya pejabat mah ada resikonya. Dan saya siap. Jadi saya mohon sama temen-temen media untuk menyajikan berita yang objektif. Saya tidak mau mekanisme birkorasi, yang hanya diikuti dua kandidat saja, berpolemik,” ungkapnya.(sgr)

Tags

Terkini