pemerintahan

Meneladani Perjuangan Pahlawan Nasional KH Noer Alie

Minggu, 18 Agustus 2019 | 12:03 WIB
Unsur Muspida Bekasi menggelar doa dan ziarah di TMP KH Noer Ali

KanalBekasi.com - Polres Metro Bekasi Kombes Chanda Sukma dan Bupati Bekasi Eka Supriatmaja bersama unsur Muspida melakukan ziarah ke pahlawan nasional KH Noer Alie di Komplek Pondok Pesantren Attaqwa Putri, Kampung Ujung Harapan, Babelan, Kabupaten Bekasi.

Bupati berpesan generasi muda harus meneladani rasa kecintaan kepada negara dengan memberikan kontribusi terbaik untuk negara

”Salah satu bentuk meneladani pahlawan adalah mampu berkontribusi positif dan menjungjung tinggi persatuan,” kata Eka, Minggu (18/7)

Eka mengingatkan pengorbanan mereka yang sudah dibayar dengan perjuangan mempertaruhkan jiwa dan raga harus dibayar dengan kesengguhan generasi penerus membangun bangsanya.

Kegiatan dihadiri Bupati Bekasi H Eka Supriatmaja, Kapolres Metro Bekasi Kombes Candra Sukma Kumara, para Pejabat Utama Polres Metro Bekasi, PLH Danramil Babelan mewakili Dandim 0509 Kabupaten Bekasi Kapten Arm N Setiabudi dan Ketua DPRD Kabupaten Bekasi H Sunandar.

Baca Juga: HUT RI, Wali Kota Gemakan NKRI Harga Mati


KH Noer Ali, sosok ulama kharismatik yang menjadi “singa” saat masa merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah Belanda dan Jepang. Lahir di Babelan, Bekasi, pada tahun 1914. Wawasan keislaman KH Noer Ali tidak perlu diragukan lagi. Ia telah melanglang buana belajar keislaman kepada para ulama besar di Tanah Air maupun di Makkah.

KH Noer Ali bersama rekan lainnya dari Indonesia di Makkah membentuk organisasi Persatuan Pelajar Betawi (PPB). Tahun 1939 KH Noer Ali pulang ke Indonesia. Lalu tahun 1940, KH Noer Ali mendirikan pondok pesantren.

Kedatangan KH Noer Ali kembali ke Tanah Air merisaukan para tuan tanah dan pemerintah kolonial. Sebab seluruh warga dengan sukarela memberikan tanahnya untuk pembangunan akses jalan di Ujung Malang, Teluk Pucung dan Pondok Ungu. Hal yang membuat tuan tanah kehilangan perilaku jahatnya sebab selama ini kerap membeli tanah dengan harga yang merugikan warga.

Tahun 1942, nama KH Noer Ali masuk dalam daftar ulama yang harus bekerja sama dengan penjajah Jepang. Di tahun yang sama, penjajah Jepang memintanya agar bersedia bekerja sama dengan Jepang melalui rekan sejawat KH Noer Ali asal Thailand saat menjadi santri di Makkah. KH Noer Ali dengan tegas menolaknya. Ia tak ingin pesantrennya nanti tak terurus dan para santrinya terpecah sebab enggan berkompromi dengan penjajah Jepang.

Pada masa perebutan kemerdekaan, KH Noer Ali mempersiapkan santrinya untuk masuk ke latihan kemiliteran yang dibentuk Jepang. Ada juga yang disalurkan ke Pasukan Pembela Tanah Air agar ikut berperang di medan tempur.

KH Noer Ali bukan hanya berdiam diri sebagai ulama. Ia adalah “singa” medan perang. KH Noer Ali memimpin lascar-laskar rakyat untuk bertempur merebut kemerdekaan. KH Noer Ali bahkan pernah menjadi Komandan Bataliyon Tentara Hizbullah Bekasi.

Sejarah mencatat, tahun 1947 KH Noer Ali terlibat pada pertempuran sengit di Karawang-Bekasi dengan tentara penjajah Belanda. KH Noer Ali kala itu memerintahkan warga dan pasukannya untuk membuat bendera merah putih ukuran kecil lalu dipasang di setiap pohon dan tiang. Tujuannya untuk mempertegas bahwa Indonesia masih ada dan siap mempertahankan kemerdekaannya. (sgr)

Tags

Terkini