Kamis, 4 Juni 2026

Krapyak 1998, Jejak Intelektual dan Drama Sahur Santri Lirboyo Mukti Ali Qusyairi

Photo Author
Cesconrad Br. Ginmunt, KanalBekasi.com
- Kamis, 14 Mei 2026 | 16:14 WIB
Mukti Ali Qusyairi. (Kolase Istimewa)
Mukti Ali Qusyairi. (Kolase Istimewa)

Jejak yang Tak Terhapus

Bagi Mukti, kunjungan ke Krapyak adalah perpaduan antara spiritualitas, intelektualitas, dan pengalaman lapangan yang absurd. Di balik hiruk-pikuk perdebatan kitab kuning mengenai nasib bangsa yang sedang di ambang perubahan besar, ada cerita tentang dua santri yang lari terbirit-birit di trotoar Yogyakarta.

Baca Juga: Diduga Tantang Netizen, Status WA Juri LCC MPR Indri Wahyuni Soal LHKPN Viral

"Setiap mendengar kata Krapyak, saya selalu teringat memori indah ini," tutupnya.

Kini, bertahun-tahun setelah peristiwa itu berlalu, Krapyak tetap berdiri sebagai benteng ilmu, dan bagi Mukti, ia akan selalu menjadi tempat di mana sejarah besar bangsa dan sejarah kecil hidupnya bertemu dalam satu garis waktu.*

*Artikel ini diolah dari tulisan asli Mukti Ali Qusyairi berjudul "Krapyak"

Halaman:

Editor: Cesconrad Br. Ginmunt

Sumber: KanalBekasi.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X