ragam

Krapyak 1998, Jejak Intelektual dan Drama Sahur Santri Lirboyo Mukti Ali Qusyairi

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:14 WIB
Mukti Ali Qusyairi. (Kolase Istimewa)

KanalBekasi.com – Bagi Mukti Ali Qusyairi, nama "Krapyak" bukan sekadar titik koordinat geografis di Yogyakarta. Ia adalah sebuah kapsul waktu yang melempar ingatannya kembali ke tahun 1998 tahun yang genting bagi republik, sekaligus tahun yang penuh cerita jenaka bagi seorang santri muda dari Kediri.

Kisah ini bermula di satu malam yang gigil, pukul 01.00 dini hari. Mukti, yang kala itu masih duduk di kelas 2 Madrasah Aliyah Pesantren Lirboyo, menginjakkan kaki di Stasiun Yogyakarta bersama sahabat karibnya, Miqdad. Mereka adalah delegasi resmi Lirboyo untuk perhelatan Bahtsul Masail (forum diskusi hukum Islam) antarpesantren se-Indonesia di Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak.

Baca Juga: Bermula Saling Sindir di Medsos, Remaja 13 Tahun di Pondok Melati Tewas Ditusuk

Pelarian di Jantung Malioboro

Suasana Malioboro yang lengang saat itu sempat membuat Mukti teringat akan lirik lagu Katon Bagaskara. Namun, romantisme itu segera buyar oleh rasa lapar. Miqdad, yang sedang menjalani tirakat puasa Dalail al-Khairat dan ngerowot (tidak makan nasi), mengajak Mukti mencari warung sahur.

Di sebuah warung kopi di kawasan alun-alun, sebuah peristiwa tak terduga terjadi. Di tengah santap mie rebus dan kopi panas, seorang pria bertubuh kekar, tegap, dan berotot duduk di samping mereka. Alih-alih suara bariton yang keluar, pria itu justru memesan makanan dengan nada kemayu yang kental.

"Mas, pesan indomie dong kayak mas-mas ini," kenang Mukti menirukan suara sang pria yang melambai gemulai.

Baca Juga: Dampingi Presiden di Kejagung, Panglima TNI Komitmen Amankan Kekayaan Negara

Ketegangan memuncak saat mereka memutuskan bergegas pergi, namun sang pria justru mengejar sambil berteriak mengajak mereka singgah ke tempat tinggalnya. "Jantung kami berdegup kencang. Kami lari sekuat tenaga. Waktu itu saya masih kurus dan lincah," selorohnya. Aksi kejar-kejaran itu berakhir setelah mereka berlindung di tengah kerumunan seniman jalanan Malioboro.

Mimbar Intelektual di Tahun Genting

Setelah "drama" subuh yang menguras energi, fajar membawa mereka ke gerbang Pesantren Krapyak. Di sana, mereka telah ditunggu oleh Gus Fahmi Basya, rekan satu delegasi yang sudah lebih dulu tiba.

Jika malamnya mereka berhadapan dengan teror jalanan, siangnya mereka berhadapan dengan pergolakan pemikiran. Forum Bahtsul Masail di Krapyak tahun itu tidaklah biasa. Atmosfer Reformasi 98 mewarnai meja-meja diskusi.

Baca Juga: Kurang Waspada, Pemotor Tertemper KA Sangkuriang di Jember

"Saya ingat betul, tema-tema yang dibahas mencerminkan tahun 98. Mulai dari hukum demokrasi, kepemimpinan perempuan, KKN, hingga pernyataan-pernyataan kontroversial Gus Dur tentang Soeharto," ungkap Mukti.

Dalam forum bergengsi tersebut, Mukti Ali Qusyairi dipercaya memimpin jalannya diskusi sebagai moderator pada sesi pertama. Ia bersanding dengan nama-nama besar di dunia bahtsul masail, termasuk Abdul Manan, santri legendaris dari Pesantren Ploso yang memimpin sesi kedua.

Halaman:

Tags

Terkini