hukum-kriminal

Munculnya Surat Edaran Hoax di Yakini Paslon masih Miskin Program

Senin, 25 Juni 2018 | 03:00 WIB
Sejumlah tokoh umat beragama Kota Bekasi

KanalBekasi.com - Terkait beredarnya surat perjanjian antara Paslon 1 Walikota Bekasi dengan beberapa lembaga keagamaan, Ketua FKUB Kota Bekasi Abdul Manan bersikap dengan memfasilitasi pihak-pihak yang merasa dirugikan dengan adanya perjanjian tersebut.

Dalam kesempatan itu, nampak hadir Pendeta Keke Assa dari Persatuan Gereja Pantekosta Indonesia (PGPI), Pendeta Yohanes Nur dari Badan Musyawarah Antar Gereja Kristen Indonesia, serta Romo Yustinus Kesar Yanto ketua Gereja Katolik Dekenat Bekasi.

Abdul manan menyampaikan bahwa rekan-rekan dari pendeta merasa di rugikan dan di catut namanya dalam beredarnya perjanjian tersebut

“Sejak tahun 80’ an saya berdinas dan tinggal di Bekasi, selalu mengajarkan kepada masyarakat untuk membangun semangat kebersamaan dan persaudaraan,” tegas Manan di kediamannya, Jakasetia, Bekasi Selatan, Minggu (24/6).

Dalam proses berdemokrasi, tambah Manan, hendaknya mengedepankan visi misi dan adu program, jangan miskin program apalagi saling fitnah, adu domba dan menjelekkan pihak lain. Adanya surat perjanjian hoax antara para pendeta dan paslon 1 diyakini Manan adalah upaya adu domba dan menghalalkan segala cara untuk menang.

“Cara-cara tersebut bukanlah perbuatan orang bergama, Di dalam Alquran pun surat Alhujurat menjelaskan bahwa orang beriman adalah bersaudara, jangan lah saling fitnah, bisa jadi orang yang di fitnah justru lebih baik dari yang memfitnah,” tandasnya

Lebih lanjut sebagai tokoh masyarakat, Manan juga berharap aparat mampu bertindak dengan tegas terkait pihak-pihak yang berusaha bermain fitnah dan adu domba.
“Saya mantan aparat, tentunya pihak keamanan tidak akan membiarkan upaya-upaya yang dapat mengganggu stabilitas keamanan terutama jelang Pilkada kota Bekasi,” tegas Manan

Sementara itu Romo Yustinus kesar yanto, mengatakan bahwa dengan beredarnya surat perjanjian tersebut sangat merugikan bagi dirinya. Ia menyesalkan atas beredarnya surat perjanjian yang merasa tidak pernah mengatuhinya.

“Karena kalau misalnya nama dan tanda tangan dicatut itu sudah pasti, dan apalagi yang isinya bertentangan dengan profesi saya sebagai romo atau romo, dan nanti ada jemaat yang bertanya kenapa bisa terlibat dengan politik praktis,” kata Yustinus

Senada dengan yang dikatakan Romo Yustinus, Yonahes Nur, dari Badan Musyawarah Antar Gereja Kristen Indonesia juga membantah telah melakukan perjanjian tersebut. Ia berharap permasalahan tersebut dapat segera diselesaikan, serta mengungkap aktor dibalik beredarnya surat perjanjian palsu tersebut.

“Itu adalah tindakan biadab, saya sangat mengutuk hal itu, mengutip nama untuk kepentingan yang sama sekali tidak berkperimanusiaan, saya merasa sangat dirugikan, bukan hanya saya, tapi keluarga saya juga,” kata Yohanes.(sgr)

Tags

Terkini