Kamis, 4 Juni 2026

Ironi di Balik Dapur Santri, 13 Ponpes Jawa Barat Terjerat Sindikat Penipuan MBG

Photo Author
Cesconrad Br. Ginmunt, KanalBekasi.com
- Selasa, 5 Mei 2026 | 13:50 WIB
Skandal penipuan program Makan Bergizi Gratis rugikan 13 pesantren di Jawa Barat hingga ratusan juta rupiah akibat janji palsu. (Foto: Ilustrasi/AI)
Skandal penipuan program Makan Bergizi Gratis rugikan 13 pesantren di Jawa Barat hingga ratusan juta rupiah akibat janji palsu. (Foto: Ilustrasi/AI)

KanalBekasi.com – Belum kering ingatan publik soal kasus penipuan WNI di Tanah Suci, kini jagat hukum Tanah Air kembali diguncang oleh skandal "Penipuan Naik Kelas".

Kali ini, sasarannya adalah institusi pendidikan agama. Sebanyak 13 kiai dari berbagai pondok pesantren di Jawa Barat melaporkan kasus penipuan bermodus program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mencatut nama instansi negara.

Modus "Dapur Santri" dan Janji Manis Pemerintah

Kasus ini mencuat ke permukaan setelah para pengasuh pondok pesantren menyambangi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) PP GP Ansor pada 30 April 2026. Mereka membawa tumpukan bukti kerugian yang jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah per pesantren.

Baca Juga: PNIB Tolak Kehadiran Rizieq Shihab di Acara Solidaritas Palestina di Madura dan Pasuruan

Para pelaku menjalankan aksinya dengan sangat rapi melalui entitas bernama Dapur Santri Nusantara (DSN) atau Koperasi Santri Nusantara. Mereka mengeklaim sebagai mitra resmi Badan Gizi Nasional untuk menyukseskan program strategis pemerintah.

"Penampilan mereka sangat meyakinkan, bergaya formal layaknya pejabat kementerian, membuat para kiai percaya bahwa ini adalah pintu pengabdian sekaligus kesejahteraan santri," ujar salah satu perwakilan pendamping hukum.

Skema "Hipnotis" Finansial

Untuk bergabung dalam kemitraan ini, pihak pesantren diwajibkan memenuhi sejumlah persyaratan yang menguras kantong:

  • Lahan & Administrasi: Menyediakan lahan minimal 400 m² dan membayar biaya pendaftaran Rp1,5 juta.
  • Commitment Fee: Pembayaran uang muka sebagai tanda keseriusan.
  • Pembangunan Mandiri: Pesantren diminta membangun gedung dapur menggunakan kontraktor yang ditunjuk pelaku dengan janji bahwa seluruh biaya akan "diganti penuh" (reimbursement) oleh pemerintah setelah operasional berjalan.

Baca Juga: Tak Terima Disentil Kasatpol PP, Puluhan Anggota Linmas Geruduk Pemkot Bekasi

Tergiur dengan janji mulia tersebut, banyak kiai yang melakukan langkah nekat. Mulai dari menguras dana operasional pesantren, menggadaikan aset, hingga menjual kendaraan pribadi demi memastikan dapur tersebut berdiri.

Dapur Berdiri, Pelaku Melenyap

Sindikat penipuan berkedok program Makan Bergizi Gratis sasar 13 pondok pesantren di Jawa Barat dengan kerugian miliaran. (Foto: Ilustrasi/AI)

Ironisnya, saat bangunan fisik dapur telah tegak berdiri dan warga sekitar sudah menaruh harapan untuk bekerja, para "utusan" tersebut mendadak hilang bak ditelan bumi. Kantor mereka berpindah tanpa jejak, nomor kontak tidak lagi aktif, dan setelah dicek, koperasi tersebut ternyata tidak terdaftar di kementerian terkait.

KH Ade Abdurrahman, salah satu korban asal Cirebon, mengungkapkan kekecewaannya. Ia mengaku telah menjual mobil pribadinya demi proyek ini. Kini, ia harus menghadapi kenyataan pahit: dapur kosong yang megah namun tak berfungsi, serta harapan warga desa yang pupus.

Halaman:

Editor: Cesconrad Br. Ginmunt

Sumber: KanalBekasi.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X