KanalBekasi.com – Belum kering ingatan publik soal kasus penipuan WNI di Tanah Suci, kini jagat hukum Tanah Air kembali diguncang oleh skandal "Penipuan Naik Kelas".
Kali ini, sasarannya adalah institusi pendidikan agama. Sebanyak 13 kiai dari berbagai pondok pesantren di Jawa Barat melaporkan kasus penipuan bermodus program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mencatut nama instansi negara.
Modus "Dapur Santri" dan Janji Manis Pemerintah
Kasus ini mencuat ke permukaan setelah para pengasuh pondok pesantren menyambangi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) PP GP Ansor pada 30 April 2026. Mereka membawa tumpukan bukti kerugian yang jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah per pesantren.
Baca Juga: PNIB Tolak Kehadiran Rizieq Shihab di Acara Solidaritas Palestina di Madura dan Pasuruan
Para pelaku menjalankan aksinya dengan sangat rapi melalui entitas bernama Dapur Santri Nusantara (DSN) atau Koperasi Santri Nusantara. Mereka mengeklaim sebagai mitra resmi Badan Gizi Nasional untuk menyukseskan program strategis pemerintah.
"Penampilan mereka sangat meyakinkan, bergaya formal layaknya pejabat kementerian, membuat para kiai percaya bahwa ini adalah pintu pengabdian sekaligus kesejahteraan santri," ujar salah satu perwakilan pendamping hukum.
Skema "Hipnotis" Finansial
Untuk bergabung dalam kemitraan ini, pihak pesantren diwajibkan memenuhi sejumlah persyaratan yang menguras kantong:
- Lahan & Administrasi: Menyediakan lahan minimal 400 m² dan membayar biaya pendaftaran Rp1,5 juta.
- Commitment Fee: Pembayaran uang muka sebagai tanda keseriusan.
- Pembangunan Mandiri: Pesantren diminta membangun gedung dapur menggunakan kontraktor yang ditunjuk pelaku dengan janji bahwa seluruh biaya akan "diganti penuh" (reimbursement) oleh pemerintah setelah operasional berjalan.
Baca Juga: Tak Terima Disentil Kasatpol PP, Puluhan Anggota Linmas Geruduk Pemkot Bekasi
Tergiur dengan janji mulia tersebut, banyak kiai yang melakukan langkah nekat. Mulai dari menguras dana operasional pesantren, menggadaikan aset, hingga menjual kendaraan pribadi demi memastikan dapur tersebut berdiri.
Dapur Berdiri, Pelaku Melenyap
Ironisnya, saat bangunan fisik dapur telah tegak berdiri dan warga sekitar sudah menaruh harapan untuk bekerja, para "utusan" tersebut mendadak hilang bak ditelan bumi. Kantor mereka berpindah tanpa jejak, nomor kontak tidak lagi aktif, dan setelah dicek, koperasi tersebut ternyata tidak terdaftar di kementerian terkait.
KH Ade Abdurrahman, salah satu korban asal Cirebon, mengungkapkan kekecewaannya. Ia mengaku telah menjual mobil pribadinya demi proyek ini. Kini, ia harus menghadapi kenyataan pahit: dapur kosong yang megah namun tak berfungsi, serta harapan warga desa yang pupus.
Artikel Terkait
Polisi Bongkar Trik Licik Peredaran Tramadol di Bekasi Timur–Rawalumbu
Polda Metro Jaya Akan Tertibkan Knalpot Brong
Polisi Amankan Ribuan Obat Keras Hasil Penggerebekan di Jatisampurna
Sudah 31 Orang Diperiksa, Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur Naik ke Tahap Penyidikan
Lingkungan Dianggap Rawan Pencurian, Warga Resah Jaket yang Dijemur di Depan Rumah Sering Hilang